Kenapa Lailatuqadar Disebut Malam 1.000 Bulan

Bangun tidur di sepertiga malam terakhir untuk Salat Tahajud. (dok)
28 Mei 2019 04:10 WIB Jafar Sodiq Assegaf Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Malam seribu bulan atau dikenal dengan istilah Lailatul Qadar adalah momentum paling dicari-cari di bulan Ramadan. Di malam itu, dijanjikan pahala yang setara dengan seribu bulan.

Alquran surat Ad Dukhan ayat 3-6 menceritakan saat Lailatul Qadar Alquran kali pertama diturunkan. Sedangkan, pernyataan bahwa Lailatul Qadar setara dengan malam seribu bulan muncul di Alquran surat Al Qadar.

Penjelasan ringkas tentang malam seribu bulan ini dapat ditemukan dalam berbagai buku Islam. Wikipedia menjelaskan Lailatul Qadara  adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Alquran digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Alquran.

Keistimewaan Lailatul Qadar dijelaskan dalam Alquran surat Al-Qadar.

Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al Qur’an mengatakan Lailatul Qadar memiliki tiga arti. Quraish Sihab mengambarkan pengertian pertama dengan uraian bahwa Lailatul Qadar adalah penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia.

"Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad-Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami,” demikian dikutip dari buku Wawasan Al Qur’an, Kamis (2/7/2015).

Pengertian kedua adalah kemuliaan. “Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran.”

suratyang berbicara tentang kaum musyri; Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat.

Pengertian ketiga adalah Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra'd ayat 26.

“Lailatul Qadar dapat juga kita artikan sebagai malam pelimpahan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah kepada umat islam yang berkehendak untuk mendapatkan bagian dari pelimpahan keutamaan itu. Keutamaan ini berdasarkan nilai Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan,” demikian Quraish Shihab menutup uraiannya tentang Lailatul Qadar.