Semua Wanita Itu Cantik, Asal...

Ilustrasi setop kekerasan terhadap wanita (Forbes)
30 Juni 2019 06:00 WIB Chelin Indra Sushmita Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO – Citra cantik pada diri seorang wanita kerap menjadi hal yang paling disoroti. Selama ini, wanita mendapat predikat cantik adalah mereka yang langsing, putih, tinggi, mulus, dan menarik. Pandangan semacam itu seolah menjadi patokan untuk menilai standar kecantikan seorang wanita.

Akibatnya, wanita yang tidak memiliki kriteria di atas sering mendapat diskriminasi dari masyarakat, termasuk di tempat kerja. Bahkan, kekerasan simbolik terhadap wanita seringkali dilakukan, baik disengaja maupun tidak.

Bukan hanya wanita yang kurang cantik. Wanita dengan predikat cantik justru sering menjadi korban kekerasan simbolik tersebut. Praktik kekerasan serta pelecehan terhadap wanita bisa terjadi di berbagai tempat, termasuk industri media massa, khususnya televisi.

Seorang wanita yang ingin tampil di layar kaca harus menjaga penampilan agar tetap sempurna. Tidak boleh ada sedikit pun kekurangan pada wajah maupun fisik. Hal tersebut seringkali membuat seorang wanita stres karena tidak bisa menerima kondisi tubuhnya, seperti dialami artis Kumalasari.

Kumalasari rela melakukan berbagai macam diet ketat hingga mengonsumsi berbagai macam obat pelangsing demi memiliki tubuh ideal. Kisah Kumalasari mendapatkan bentuk tubuh ideal diceritakan dalam film dokumenter bertajuk More Than Work karya Luviana Ariyanti.

Film dokumenter tersebut dibedah dan didiskusikan bersama belasan orang di Studio Kopi Ndaleme Eyang, Sumber, Solo, Rabu (6/6/2019), malam. Dalam diskusi tersebut, hadir pula Siti Farida dari Jaringan Perempuan Bergerak Parvati sebagai narasumber.

Diskusi tentang kekerasan dan pelecehan yang dialami wanita berlangsung sangat menarik. Apalagi saat salah satu peserta menceritakan pengalamannya di-bully dan dipandang sebelah mata karena dianggap kurang cantik.

Kondisi berbalik ketika si peserta berubah menjadi wanita dengan predikat cantik yang dipahami masyarakat luas, khususnya para wanita. Menurutnya, para wanitalah yang melanggengkan stigma cantik dengan kriteria tersebut di atas sampai detik ini. Namun, para wanita juga yang dibuat pusing dengan stigma cantik tersebut.

Siti Farida selaku narasumber mengatakan, komentar orang sekitar tentang fisik seseorang [dalam hal ini wanita] merupakan hal biasa. “Sebenarnya wanita mengomentari fisik wanita adalah hal biasa. Apalagi jika wanita tersebut adalah teman sendiri. Asalkan diterima dengan baik tidak akan menjadi masalah,” terangnya.

Sementara dalam pandangan Luviana Apriyanti si pembuat film More Than Work, komentar tentang fisik, khususnya wanita, semestinya dihindari. “Apa sih untungnya mengomentari fisik? Sayangnya kita menjadikan fisik sebagai objek yang penting untuk dikomentari. Kriteria wanita cantik yang tinggi, langsing, putih, rambut panjang, dan lain sebagainya seolah sudah mendarah daging. Bahkan, anak-anak pun ikut dipusingkan dengan hal tersebut,” tutur Luviana.

Selama ini, Luviana mengajarkan kepada anak perempuannya untuk menerima apapun kondisi fisiknya. Dia memberikan pemahaman kepada sang anak agar tidak terlalu fokus pada stigma wanita cantik yang dipahami masyarakat.

Anak saya sering bertanya, wanita cantik itu yang rambutnya panjang ya? Atau pertanyaan lainnya tentang kriteria wanita cantik yang semestinya belum dipikirkan oleh anak-anak. Dan saya selalu bilang sama anak saya bahwa setiap wanita itu cantik. Ya, wanita memang terlahir dalam bentuk fisik yang cantik kan?” sambung Luviana.

Pada akhir diskusi, Luviana Apriyanti mengatakan, setiap wanita terlahir cantik secara fisik. Namun, wanita tersebut akan lebih cantik jika memiliki kecerdasan. “Semua wanita itu cantik. Lebih cantik lagi kalau cerdas. Jadi, bukan hanya dilihat dari fisiknya saja. Wanita juga akan cantik jika dia punya kecerdasan,” tegas Luviana Apriyanti.

Siti Farida menambahkan, wanita cantik harus berani menyuarakan pendapat. Sebab, selama ini banyak wanita yang memilih diam ketika mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan. Dia mengibaratkan wanita cantik seperti Dewi Parwati.

Wanita cantik itu harus vokal. Bagi saya, wanita cantik adalah yang seperti Dewi Parwati yang merupakan perwujudan dari Sakti dan Durga. Sakti melambangkan sifat keibuan yang aktif dan feminin. Namun, dia bisa berubah menjadi sangat kejam untuk membasmi kejahatan dalam wujud Dewi Durga,” tandas Siti Farida.