Puasa 7 Hari Pertama di Bulan Dzulhijjah Tak Kalah Istimewa dari Tarwiyah&Arafah

Muslim beribadah di dalam masjid al-Fatah, Tunisia, 5 Juli 2019. (Reuters - Ammar Awad)
02 Agustus 2019 03:10 WIB Jafar Sodiq Assegaf Lifestyle Share :

Solopos.com, JAKARTA - Tepat pada tanggal 2 Agustus 2019 telah masuk hari pertama bulan Dzulhijjah. Selain amalan-amalan seperti puasa Tarwiyah, Arafah dan Idul Adha, ada amalan lain yang tak kalah penting yaitu berpuasa di tujuh hari pertama bulan Dzulhijjah.

Jamak diketahui ada tiga waktu di bulan Dzulhijjah yang memiliki keistimewaan, yaitu yaumu tarwiyah, yaumu 'arafah, dan yaumu nahr, atau tanggal 8,9, dan 10 bulan Dzulhijjah. Saat yaumu tarwiyah dan 'arafah amalan yang disunnahkan adalah puasa sedangkan yaumu nahr dikenal sebagai hari Idul Adha dimana orang akan melaksanakan salat dan berkurban.

Namun tak hanya ketiga waktu itu yang sangat istimewa, tujuh hari pertama di bulan Dzulhijjah juga merupakan hari-hari yang sangat penting.

Tujuh hari pertama di bulan Dzulhijjah juga termasuk hari-hari yang paling mulia sepanjang tahun. Bahkan, Ustaz Khalid Basalamah dalam ceramahnya menyebut keutamaan sepuluh hari pertama (termasuk tujuh hari pertama) bulan Dzulhijjah sangat istimewa layaknya Lailatul Qadar di bulan Ramadan.

"Tidak ada hari-hari sepanjang tahun di mana semua jenis ibadah kecil seperti mengucapkan subhanallah satu kali, membaca satu ayat, sodakoh dengan seribu rupiah misalnya. Dari sunnah yang paling kecil hingga yang [hukumnya] wajib lebih Allah cintai, maksudnya lebih besar pahalanya, dibandingkan amal soleh di 10 awal bulan dzulhijjah," kata Ustaz Khalid Bassalamah dalam salah satu ceramahnya yang diunggah di akun Youtube Khalid Basalamah Official.

Ustaz Khalid lantas menjabarkan saat sahabat bertanya, apakah pahala jihad di jalan Allah bisa mengalahkan pahala di bulan Dzulhijjah. Makan dijawab oleh Rasulullah, jihadpun tak bisa mengalahkan amalan di bulan Dzulhijjah. "Kecuali seorang laki-laki yang ikut berperang [berjihad], dia membawa jiwanya dan seluruh hartanya, dan dia tidak membawa pulang keduanya" ungkapnya.

Lebih lanjut dijelaskan tentang maksud kalimat terakhir adalah bahwa dia mati syahid dan hartanya habis diinfaqkan. "Baru bisa menyamai pahala di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah," katanya sang Ustaz.

Oleh karenannya, lulusan Universitas Islam Madinah ini menyarankan agar mengerjakan amalan-amalan baik sunnah maupun wajib dengan sungguh-sungguh di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. "Ini hari-hari emas kita. Bayangkan, mengalahkan pahala jihad," katanya.

Mengutip laman NU.or.id, Jumat (2/8/2019), Anjuran untuk memperbanyak puasa dan amalan lain selama 10 hari pertama di Bulan Dzulhijjah tertuang dalam Hadis Riwayat Ibnu 'Abbas dalam Sunan At-Tirmidzi. "Rasulullah SAW berkata: Tiada ada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini," demikian Hadits Riwayat At Tirmidzi.

Umat muslim yang belum memiliki kemampuan dan kesempatan untuk menunaikan ibadah haji bisa melakukan puasa sejak tanggal 1 Dzulhijjah hingga 7 Dzulhijjah. Kemudian dilanjutkan dengan puasa Tarwiyah dan Arafah.

Dalam hadis riwayat tersebut dengan jelas disebutkan bahwa amalan apapun selama 10 hari pertama di Bulan Dzulhijjah sangat dianjurkan. Salah satu amalan yang bernilai sangat tinggi yang bisa dilakukan adalah puasa.

Meski demikian, 10 hari pertama di Bulan Dzulhijjah ini tidak termasuk pada tanggal 10 Dzulhijjah yang masuk dalam perayaan Hari Raya Idul Adha. Saat Hari Raya Idul Adha tidak diperbolehkan melakukan puasa sebab hukumnya haram.

Adapun anjuran puasa Dzulhijjah bisa dimulai pada 1 Dzulhijjah yang jatuh pada 2 Agustus 2019.

Untuk Puasa tarwiyah jatuh pada 8 Dzulhijjah atau 9 Agustus 2019, sementara puasa Arafah jatuh pada 9 Dzulhijjah atau 10 Agustus 2019.