Ini Dampak Memakai Senjata Bohong Berulang kepada Anak

Anak-anak bermain di wahana permainan di kompleks Taman Balekambang Solo, Jumat (21/12 - 2018). (Solopos/M. Ferri Setiawan)
06 Agustus 2019 17:20 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Anak kecil terutama yang hampir lepas dari masa balita seringkali menunjukkan sikap dan perilaku bertentangan dengan arahan orang tua. Imbasnya, ayah bunda kadang kala bersiasat atau bahkan terpaksa berbohong demi mengendalikan anaknya dari perilaku buruk.

Namun ketika orang tua berbohong kepada buah hatinya, di benak para orang dewasa jamak terselip pertanyaan “Apakah nanti anakku juga tumbuh menjadi pribadi yang suka bohong?”

“Anak-anak belajar jujur dan juga berharap mendapatkan kejujuran ketika mereka sudah paham dengan konsep tersebut,” jawab Tamara Soles, psikolog anak asal Montreal, seperti dilansir Todaysparent.com, baru-baru ini.

Argumen lain disampaikan Gwen Dewar melalui Parentingscience.com.

“Belum ada penelitian pasti terkait pertanyaan itu. Tapi berdasarkan bukti terbatas, jawabannya tergantung pada tingkat perkembangan anak,” kata Gwen Dewar.

Dia menjabarkan anak kecil mampu mengingat detail pernyataan kita secara akurat. Ketika menginjak usia empat tahun, sejumlah anak terbukti bisa punya preferensi percaya pada orang yang berlaku jujur kepada mereka.

Namun demikian, berbohong kepada anak kecil tidak serta-merta membuat mereka tumbuh menjadi pribadi tidak jujur. Karena sesuai tahap pertumbuhannya, mereka tidak memiliki keterampilan kognitif untuk memahami sepenuhnya konsep kebohongan.

Lain halnya ketika orang tua doyan berbohong kepada anak sampai dia tumbuh besar dan paham konsep kejujuran. Dampak jangka panjangnya mereka bisa menjadi orang yang punya krisis kepercayaan dengan sekitar.

Ada kalanya orang tua berbohong untuk menganjurkan atau berkelit dari sesuatu. Misalkan disuruh makan sayur agar saat dewasa kelak tidak jerawatan atau pakai kacamata. Atau bilang ‘papa dan mama sedang tidak punya uang’ ketika si kecil merengek minta mainan baru di pusat perbelanjaan.

Jenis kebohongan tersebut masuk dalam kebohongan instrumental. Hal itu sangat umum. Dalam riset bertajuk Exposure to Parenting by Lying in Childhood: Associations with Negative Outcomes in Adulthood, terungkap hampir separuh responden orang tua yang disurvei di Amerika Serikat dan China pernah melakukan kebohongan instrumental saat anaknya berlaku buruk.

Ketua tim riset tersebut Rachel Santos menyarankan agar kebohongan instrumental jangan dijadikan senjata terus-terusan oleh para orang tua ketika anaknya berlaku tidak baik.

Menurutnya, orang tua yang bergantung pada kebohongan instrumental tidak memberikan latihan emosi pada anak mereka.

“Kebohongan instrumental memang praktis. Tapi waktu yang kita curahkan ketika bernegosiasi dengan anak dapat mengembangkan keterampilan mereka memecahkan masalah. Anak yang tidak terampil dalam memecahkan masalah, riskan berperilaku antisosial,” beber Rachel.

Ketika anak sudah sekolah dan masih sering dicekoki kebohongan instrumental, siswa tersebut bakal mengingat-ingat kebohongan tersebut. Dari situ mereka jadi anak bermasalah seperti suka merusak properti orang lain, selingkuh, atau perilaku antisosial lain.

Penelitian lain menyebutkan, dampak ketika orang tua terus-menerus menggunakan senjata bohong kepada anak bisa berpengaruh pada keharmonisan hubungan kedua belah pihak.

Para peneliti sepakat orang dewasa yang punya latar sering dibohongi orang tua mereka sampai besar, merasa tidak puas dengan hubungannya dengan para orang tua mereka.