5 Cara Ajari Anak Berperilaku Baik di Tempat Umum

Ilustrasi anak tantrum (todaysparent.com)
09 Agustus 2019 11:40 WIB Mahardini Nur Afifah Lifestyle Share :

Solopos.com, SOLO -- Hampir setiap orang tua pernah mengalami anaknya bertingkah di ruang publik. Entah tiba-tiba anak tantrum ketika meminta mainan di pusat perbelanjaan, rewel minta duduk di meja ketika makan bersama di restoran, hingga bikin kotor taman atau rumah orang lantaran menumpahkan bekal makanannya.

Kejadian yang bikin sebagian orang tua ingin menutup wajahnya untuk menghindari rasa malu itu memang tak terhindarkan. Namun para orang tua jangan menyerah. Stephanie Shott, pendiri milis Mom Initiative, membagikan jurus mengajarkan anak berperilaku baik di tempat umum, beberapa waktu lalu:

1. Mulai Sedini Mungkin
Orang tua jamak menyepelekan pemahaman anak-anak. Padahal, sejak usia dua tahun, si kecil mampu memahami pesan yang kita sampaikan. Bilang kepada anak-anak tentang kode perilaku yang kita pakai di rumah. Apa saja yang boleh dan tidak. Semakin dini mengenal, anak jadi lebih cepat menginternalisasikan harapan alias ekspektasi kita menjadi nilai-nilai yang bisa mereka gunakan acuan.

Perlu disampaikan, setiap ekspektasi kita memiliki konsekuensi. Bukan berarti dengan menyampaikan harapan ini anak otomatis jadi berperilaku baik. Namun setidaknya si kecil tahu kita punya ekspektasi dan konsekuensinya nyata.

Sebagai contoh ketika anak merengek meminta sesuatu ketika diajak belanja ke toko, sampaikan ekspektasi kita dengan jelas. “Kalau kamu bertingkah karena ingin sesuatu, jawabannya pasti tidak boleh. Jadi, ketika ingin sesuatu coba minta dengan baik. Mungkin nanti permintaan kamu bakal dipertimbangkan,” kata dia

2. Terapkan Aturan
Bikin aturan tegas sejak dari rumah. Perilaku merupakan cerminan dari karakter, dan karakter terkait erat dengan perasaan ketika bersikap. Kita acapkali bikin aturan. Tapi kerap lupa membangun sikap berintegritas sebagai bagian dari karakter. Pada akhirnya, anak pun cuma sambil lalu menjalankan aturan tanpa merasa terikat ketika kita lupa mengingatkan.

Contoh sederhananya ketika mengganggu orang lain atau menyela pembicaraan. Sampaikan ke anak hal itu enggak hanya kasar, tapi juga tidak sopan. Ketika anak melanggar aturan, penting bagi kita menerapkan konsekuensi tapi juga disiplin di hati.

Konsekuensi instan bisa saja berupa menyuruh anak duduk diam selama lima menit atau hukuman lain kondisional sesuai situasi dan lokasi dan usia si kecil. Tapi penting juga mengasah kepekaan hatinya. Caranya, ketika di rumah dan sedang duduk bersama kita bisa membincangkan soal menghormati orang lain.

3. Ajari Anak Jadi Pemecah Solusi
Kebanyakan anak frustrasi karena tidak bisa mengerjakan sesuatu sendiri. Orang tua akhirnya turun tangan jadi pihak pemecah solusi. Anak pun jadi terbiasa minta bantuan orang tua dan tidak pernah belajar mencari solusi permasalahannya. Alih-alih menjadi penyedia jawaban segala persoalan anak, tugas orang tua adalah mengajari anaknya mandiri.

Contohnya ketika anak meminta kita mengerjakan sesuatu, coba balik permintaannya dengan pertanyaan bagaimana jika dia mengerjakannya sendiri. Bantu mereka berproses mandiri.

4. Bangun Mental Anak
Anak-anak secara natural bisa berpikir, namun orang tua bisa mengarahkan si kecil untuk lebih peduli sekitarnya. Hal itu membantu anak-anak lebih pengertian untuk mempertimbangkan orang lain, tidak hanya berpikir soal dirinya sendiri.

Contohnya sampaikan ketika pecicilan, seseorang bisa terluka. Berikan contoh konkret. Saat anak berlarian tanpa kontrol di supermarket atau di mal, bisa saja ada nenek-nenek yang sulit berjalan atau bayi sedang belajar jalan lalu tertabrak anak kita yang berlarian. Ajari empati dengan mengajak anak sesekali berkunjung ke panti jompo atau kerabat yang sudah sepuh dan sulit mengerjakan segala sesuatu sendiri.

5. Tunjukkan Perilaku Baik dan Buruk
Sekilas arahan ini menimbulkan kekhawatiran, jangan-jangan nanti anak jadi tukang mengecap perilaku orang lain atau hobi membandingkan dirinya dengan orang lain. Tapi, demi memberikan pemahaman, diperlukan contoh nyata agar si kecil bisa membedakan mana perilaku baik dan buruk.

Contohnya ketika sedang belanja di minimarket, kita melihat ada anak kecil menangis sembari merengek tantrum meminta mainan. Seketika habis melihat kejadian tersebut setelah berlalu dari toko, saat di kendaraan, itulah momentum paling tepat mendiskusikan soal berperilaku baik di tempat umum.

Tanyakan kepada anak bagaimana perasaannyamelihat kejadian itu. Tanyakan juga apakah anak kita juga bakal berperilaku seperti itu? Diskusi kecil lewat contoh konkret semacam ini sangat membantu membentuk mental anak. Hasil diskusi juga bisa jadi bekal jika nanti suatu ketika anak berperilaku buruk di depan umum.